MENU WISATA DIENG

Beranda » Uncategorized » MITOS DIENG

MITOS DIENG


gmbll

 

Dataran Tinggi Dieng  dibalik keindahannya menyimpan beragam cerita yang masih menjadi misteri..

Konon katanya, Dieng pada jaman dahulu dijadikan sebagai pusat spiritual umat hindu di pulau jawa, bahkan dieng dianggap sebagai poros dunia kala itu, dalam catatan sejarah peradaban hindu di pulau jawa, nama Dieng diangkat kembali dalam sebuah kitab sastra kuno yang berjudul kitab tantu panggelaran karya mpu tantular , dalam kitab tersebut nama Dieng sangat mempunyai peranan yang sangat penting , yaitu sebagai Gunung tempat Batara Guru mengatur keadaan pulau jawa yang kala itu tidak berpenghuni dan dalam keadaan khaotis ( kekosongan ) ,

Sampai sekarang Dieng masih menjadi tempat yang sangat menarik untuk kajian para ahli , dan salah satunya adalah anak-anak yang berambut gimbal yang ada di lereng Gunung Dieng , Gunung Rogo Jembangan , dan Gunung Sindoro . anak-anak berambut gimbal ini mempunyai mitos yang sangat kuat dan melegenda di Dieng, Rambut gimbal atau gembel yang tumbuh pada anak-anak Dieng yang berumur 2-5 tahun , namun rambut gimbal tersebut tidak tumbuh disemua anak-anak Dieng, perlu diketahui bahwa rambut gimbal ini tumbuh dengan diawali sakitnya si anak tersebut, sakit demam atau suhu badan yang tinggi sampai satu minggu dan bahkan lebih, dan rambut tersebut juga melalui fase pembentukan rambut berulang-ulang dengan disertai sakitnya si anak, rambut gimbal atau gembel tersebut ada 3 jenis atau bentuknya, yaitu gimbal wedus,gimbal pari dan gimbal jata.

 

Namun rambut gimbal tersebut, bagi sebagian masyarakat juga dipercaya sebagai simbol ketentraman dan kemakmuran, Berawal dari sebuah Legenda, Cerita Asal-usul Anak Berambut Gimbal atau gembel yang berkembang di masyarakat , Konon Katanya ” Pada saat Dieng tidak berpenghuni,  Seorang Kesatria dari Kerajaan Mataram Islam Datang Bersama istrinya, kesatria tersebut bernama ” Kiai Tumenggung Kolodete” dan istrinya ” Nyi Roro Ronce” , Beliau berdua mendapat titah atau amanat dari Raja mataram dan Ratu Pantai Selatan, untuk menghuni dan menjaga Keseimbangan  Bumi Dieng ,Merekalah yang kelak akan diwarisi sebuah simbol kejayaan Bumi Dieng, Yaitu anak-anak berambut Gimbal,   Dieng yang pada masa itu sangat sakral dan dianggap angker dan sebut sebagai Hutan Larangan, Masyarakat jawa kala itu mempunyai sebutan khusus untuk Dieng, dikenal dengan istilah ” Jalma mara Jalma mati”  ( Bahasa Jawa ) yang mempunyai pesan  pantangan atau larangan untuk tidak boleh masuk ke Dieng,

 

 

 

%d blogger menyukai ini: